10 November 2020

BERITABENGKULU.COM - BENGKULU: Anggota DPR RI asal Bengkulu, Mohammad Saleh, menggelar Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan di daerah pemilihannya pada Selasa (10/11/20). Kali ini pesertanya adalah paguyuban pemuda dan mahasiswa Tanjung Dalam, Curup Selatan.

Dalam kesempatan tersebut, Anggota Komisi VIII DPR RI tersebut memfokuskan paparannya pada masalah persatuan dan kesatuan yang tersimbol dalam kalimat Bhinneka Tunggal Ika. Menurutnya, semangat berbangsa yang tertulis dalam pita dalam cengkeraman burung Garuda tersebut, menghendaki agar masyarakat Indonesia yang multi etnis dan tersebar di seluruh pulau dari Sabang sampai Merauke memiliki semangat kebangsaan yang sama. 

“Dalam konteks ke-Indonesia-an, merawat semangat persatuan dan kesatuan bukanlah perkara mudah. Persoalannya terletak pada tingginya heterogenitas masyarakat. Penduduk Indonesia tidak hanya berbeda suku, tapi juga agama dan golongan. Tingkat kemajemukan kita jauh di atas seluruh negara di dunia. Inilah yang membuat perbedaan pendapat akan selalu ada di antara kita. Oleh karena itu, butuh kedewasaan dalam menyikapi perbedaan tersebut. Kedewasaan itu tercermin dari kesediaan untuk bersingeri dengan semua orang dari semua golongan, dalam setiap upaya untuk meningkatkan kesejahteraan bangsa,” ujarnya.

Karena pesertanya adalah para pemuda dan mahasiswa, maka wajar jika acara sosialisasi empat pilar tersebut berjalan secara dinamis. Hal ini sudah terlihat ketika sejumlah peserta meminta Mohammad Saleh untuk mempercepat uraian tentang struktur dan posisi lembaga-lembaga tinggi negara pasca amandemen UUD 1945. Para peserta meminta agar sesi tanya jawab segera dibuka, agar dialog lebih efektif dan efisien, mengingat materi sosialisasi yang disiapkan pemateri, sebagian besar sudah mereka ketahui. Permintaan ini langsung disetujui oleh pemateri, sehingga Mantan ketua DPD RI tersebut mempersingkat paparannya, agar alokasi waktu untuk berdiskusi lebih panjang. 

Saat sesi tanya jawab dibuka, mahasiswa secara tertib mengutarakan pendapatnya tentang fenomena kebangsaan yang mereka saksikan, dan menurut pandangan mereka tidak sejalan dengan semangat persatuan dan kesatuan yang terangkum dalam semboyan Bhinneka Tunggal Ika.

Salah satu peserta misalnya, menanyakan perdebatan dan silang pendapat yang ditunjukkan oleh para pemimpin negara dalam menyikapi suatu kebijakan. Perbedaan pendapat tersebut seringkali diwarnai oleh perdebatan yang keras, sehingga berpotensi menimbulkan perpecahan di kalangan masyarakat.

“Perbedaan pendapat dan debat panas yang sering kalian saksikan di televisi, jangan dimaknai sebagai contoh yang bertentangan dengan semangat persatuan. Tapi nilailah berdebatan tersebut sebagai bagian dari demokrasi yang memungkinkan masyarakat untuk mengutarakan pendapatnya. Sekaligus sebagai kontrol agar pelaksanaan suatu kebijakan berjalan baik. Salah satu ciri negara demokrasi adalah menjunjung tinggi kebebasan berpendapat, selama disampaikan dalam bentuk yang kontruktif dan kritik membangun,” Mohammad Saleh menguraikan pendapatnya.

Lebih lanjut, anggota Fraksi Golkar tersebut meminta masyarakat agar tidak terjebak dalam fanatisme sempit dalam menyikapi perbedaan pendapat yang terjadi di antara para pemimpin. “Perbedaan pendapat dan debat panas itu adalah hal yang lumrah di kalangan para pemimpin. Sikapi secara dewasa. Jangan terlalu fanatik mendukung seseorang, dan jangan terbawa emosi menyikapi orang yang tidak sejalan dengan pendapat Anda. Mari kita bangun iklim demokrasi di negeri ini dengan baik,” pintanya yang direspon anggukan para peserta. 

Sebelum mengakhiri acara, Mohammad Saleh menyempatkan diri menghimbau para peserta untuk tetap waspada terhadap penyebaran Pandemi Covid-19. “Saat ini bencana pandemi masih belum berakhir. Sebagai kalangan terdidik, saya meminta semua peserta menjadi motor penggerak serta memberikan contoh kepada masyarakat tentang pola hidup sehat,” pungkasnya (AdminBeBe).