30 November 2020

BERITABENGKULU.COM,- Bengkulu, Senin (30/11/20) anggota DPR RI menggelar Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan di daerah pemilihannya, provinsi Bengkulu. Bertempat di rumah Aspirasi, Mohammad Saleh mengundang semua bendara lembaga desa Rimbo Recap, Kecamatan Curup Selatan, Kabupaten Rejang Lebong. Acara yang dikordinasi oleh Kepala Urusan Keuangan Rimbo recap tersebut, dipadati oleh semua pengelola keuangan, baik di lembaga desa maupun lembaga-lembaga di luar struktur pemerintahan desa, seperti bendaraha lembaga pendidikan, lembaga sosial, hingga bendahara lembaga swadaya masyarakat.

Dari empat Pilar kebangsaan yang diuraikan, Mohammad Saleh menekankan pada Pilar Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), yang menurutnya merupakan sistem terbaik untuk diterapkan bagi negara Indonesia. “Mengapa sistem kesatuan saya katakan sebagai sitem terbaik? Karena menurut catatan sejarah, kita sudah pernah mempraktikkan sistem serikat atau federal, pada awal kemerdekaan. Dan, sistem itu, dinilai kurang tepat untuk memupuk jiwa persatuan dan kesatuan di kalangan masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, Indonesia kembali pada sistem kesatuan, supaya semua potensi perpecahan bisa dihilangkan,” Mohammad Saleh menyampaikan paparannya.

Setelah menjelaskan tentang situasi sosio-historis yang melatari penggunakan sistem negara kesatuan, Anggota Komisi VIII tersebut kemudian menjelaskan perihal kelebihan sistem kesatuan dibanding sistem serikat atau federasi. “Saat Indonesia merdeka, ada dua negara adikuasa yang sama-sama menggunakan sistem serikat atau federal. Di barat Ada Amerika dengan sistem federal, dan di timur ada Uni Soviet yang menggunakan sistem serikat. Namun karena pertimbangan bahwa sistem tersebut berpotensi menumbuhkan benih-benih fanatisme kedaerahan, maka sistem yang paling baik untuk Indonesia adalah sistem kesatuan,” imbuhnya.

Mantan angota DPD RI beralasan bahwa setiap daerah atau provinsi memiliki ciri khas tertentu, dan didominasi oleh etnis tertentu, sehingga jika negara ini menerapkan sistem federasi atau serikat, maka dikuatirkan akan timbul kompetisi yang kurang sehat antara daerah yang satu dengan yang lain, terkait pembangunan di daerahnya. Oleh karena itu, sistem yang paling cocok untuk konteks ke Indonesiaan, adalah sistem kesatuan. 

Acara yang dipadati oleh sekitar 150 peserta ini diselenggarakan dengan penerapan protokol kesehatan. Para peserta diminta untuk mengenakan masker serta duduk dengan prinsip jaga jarak (social distancing). Langkah ini dilakukan sebagai bentuk antisipasi terhadap potensi penyebaran pandemi Covid-19, kendati secara teknis desa Rimbo Recap termasuk kategori zona hijau. Tidak ada penduduknya yang terpapar Covid-19. 

Meskipun Mohammad Saleh banyak menguraikan tentang sistem ketatanegaraan, namun karena pesertanya didominasi oleh pengelola keuangan atau bendahara, maka pertanyaan peserta pada sesi diskusi banyak yang berkisar seputar masalah keuangan dan akuntabilitas publik. 

Salah satu pertanyaan yang menarik adalah tentang realisasi dana desa sebesar Rp 1 Milyar yang semat ramai dibicarakan masyarakat beberapa waktu yang lalu. Mereka menanyakan mengapa wacana tersebut tidak direalisasikan oleh pemerintah. Mendapat pertanyaans seperti ini, Mohammad Saleh mengatakan bahwa konsep pembangunan desa dilakukan sesuai dengan kebutuhan setiap desa. Tidak dipukul rata dalam bentuk penyaluran dana yang sama. Alasannya, setiap desa memiliki skala prioritas pembangunan yang berbeda, sehingga alokasi dana yang diselurkan juga pasti berbeda.(AdminBeBe).