02 Mei 2018

beritabengkulu.com,-Senin malam, tanggal 30 April 2018 sekaligus bertepatan dengan malam Nisfu Sya'ban dalam kalender Hijriah, 17 orang yang berasal dari Komunitas Bengkulu Rindu Islam (KBRI) dan Komunitas Laskar Panji Hitam (LPH) melakukan perjalanan ke Puncak Bukit Kaba yang berada di Curup, Kabupaten Rejang Lebong Provinsi Bengkulu dalam rangka memperingati malam Nisfu Sya'ban.

Malam Nisfu Sya'ban adalah salah satu malam yang memiliki beberapa keutamaan serta kemuliaan di dalam ajaran Umat Islam. Diantaranya, Allah SWT akan mengampuni dosa orang yang minta ampunan pada malam itu, mengasihi orang yang minta kasih, menjawab do’a orang yang meminta, melapangkan penderitaan orang susah, dan membebaskan sekelompok orang dari neraka.

Hal diatas disampaikan Rindra Panggarbesi sebagai salah satu anggota Komunitas LPH. "Kami melakukan perjalanan ini, dalam rangka memperingati Malam Nisfu Sya'ban. Malam ini, keberkahan dan pengampunan diukakan oleh allah", tuturnya. 

Pemilihan Bukit Kaba sebagai tujuan perjalanan memiliki makna. Bukit Kaba merupakan puncak tertinggi di Provinsi Bengkulu dengan ketinggian 1952 Mdpl. Rindra menjelaskan bahwa Untuk mencapai puncak keimanan, membutuhkan perjuangan dan pengorbanan yang begitu besar, sehingga disaat kita mampu sampai ke puncaknya, disaat itulah perasaan bahagia tak dapat digambarkan. Maka dari itu, pemilihan bukit Kaba merupakan sebuah analogi terhadap perjalanan menuju kesempurnaan iman.

"Bukit Kaba itu kan puncak tertinggi di Bengkulu. Nah perjalanan ini, saya mengibaratkan seperti sebuah proses menuju puncak keimanan. Naik gunung itu tidak mudah, butuh perjuangan, kesabaran, dan kesungguhan, kalau kita sampai puncak, bahagianya luar biasa," pungkas Rindra.

Hampir disemua rangkaian kegiatan berlangsung seperti pada umumnya, kemah, ngobrol-ngobrol, sholat berjamaah, dan tertawa bersama, intinya silaturrahmi. Namun, sedikit yang menggelitik mata bagi sebagian orang adalah pengibaran bendera Ar-Rayah di Puncak Bukit Kaba. Bendera berukuran 5X7 meter tersebut terlihat begitu menakjubkan ketika dibentangkan. Hamparan pemandangan indah di sekelilingnya semakin menguatkan keanggunan bendera tersebut.

Ketika ditanya terkait hal tersebut, Rindra menjelaskan bahwa Bendera Ar-Rayah merupakan bendera yang digunakan Rasulullah SAW, bendera kebanggan pasukan Islam, Bendera kebesaran umat islam pada masa itu. "Ar Rayah itu kan bendera yang dipakai Nabi dulu, bendera kebanggan dan kebesaran pasukan Islam" singkatnya.

Tidak hanya itu, Rindra melanjutkan dengan mengatakan bahwa belakangan ini terdapat pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab mencoba mengidentikkan simbol-simbol islam, seperti bendera tersebut dengan aksi kekerasan, terorisme, dan kekejaman. Sudah kewajiban sebagai muslim, kita meluruskan kepada seluruh dunia bahwa bendera tersebut sungguh mulia, dan sangat tidak sesuai dengan apa yang dicontohkan rasulullah.

"Saya dan kawan-kawan sungguh miris melihat opini yang berkembang belakangan ini. bendera mulia di kait-kaitkan dengan aksi terror, kekerasan, dan kekejaman. padahal, rasululullah sama sekali tidak pernah seperti itu. Saya sebagai muslim wajib meluruskannya kepada seluruh dunia kalau itu semu tidak benar. Makanya kami kibarkan ini sebagai bentuk ikhtiar untuk mengembalikan citra sebenarnya," Papar pria yang merupakan salah satu alumni Kampala Bengkulu.

Rindra berharap setiap muslim harus selalu dapat menjaga ukhuwah sehingga setiap ada pihak-pihak yang ingin merusak bahkan menghancurkan Islam, dapat dengan mudah diatasi. Perjalanan ini merupakan suatu ikhtiar untuk menjaga dan membangun silaturrahmi. Selain itu, kita dapat menikmati keindahan alam sebagai bentuk rasa syukur kepadaNya, di malam yang penuh berkah ini.

"Kalau semua muslimin ini kompak, dan besatu. saya percaya siapapun pihak yang ingin menghancurkan Islam dengan mudah dapat teratasi. nah, naik gunung ini merupakan ikhtiar menjaga dan membangun silaturrahmi. persaudaraan dapat, keindahan alam dapat dimalam yang penuh berkah ini"  tutupnya.(Rizki/BEBE)